Lupakan sandal, dan bahagia dengan sepatu..
“makasih kak!!”, ucapnya sambil menerima permen lolipop yang di berikan oleh gadis di depannya.
“sama-sama Chiara”, dia menusap lembut rambut gadis kecil itu.” Besok main kesini lagi ya?”. Senyum simpul menghiasi wajah Aini, Chiara membalasnya.
“Chiara pulang dulu ya kak, daaaaaaggh...” dilambaikannya tangan kecilnya ke Aini
“daaaagghh jugaaaaaaa.....” Aini masih bisa melihat gadis kecil itu sedang berlari kecil menuju rumahnya.
******************
“mau gimana lagi? Aku udah ter-lan-jur cin-ta”, Aini mengeja kata-katanya.” Kaya’ lagunya Rossa sama ungu kan?”, lanjutnya lesu.
“GAK!” jawab Rira kesal. “AINIFA LAROSY, kamu harus bisa ngelupain dia. Apa sieh bagusnya Dika? Udah item, tingginya pas-pasan, nyebelin, memeng sieh dia pinter, tapi lebih baik kamu cari yang lain aja deh!” papar Rira menggebu-gebu.
“ ssssssttttt.... jangan kenceng-kenceng, nanti pada denger”, Aini melihat ke sekeliling kelas untuk memastikan tidak ada yang tau.
“ya... maaf, abis aku terlalu emosi. Gimana gak emosi ? masa’ temenku masih cinta ssama orang yang udah bikin sakit hati dia”. Rira berhentidan menatap Aini seolah sadar dia telah melakukan sesuatu. “uups.. maaf.. aku kelepasan’.
“iya, gak papa kok!” aini tersenyum tersenyum yang di paksakan. Perkataan Rira membuat aini mengingat cinta pertamanya.
************
Saat itu adalah hari di mana pertama kalinya ia jatuh cinta. Waktu itu, di kelas sedang di adakan ulangan. Semua murid serius mengerjakan ulangan, termasuk Aini. Tiba-tiba kosentrasi Aini terganggu oleh seseorang yang sedang meremas kertas, mau tidak mau Ainipun menoleh ke sumber suara tepat di belakangnya. Ternyata Dika, melihat Aini sedang memandanginya Dika pun tersenyum kepada Aini. Aini membalasnya, tapi dengan cepat ia memalingkan wajahnya. Bukan karena ia marah, tetapi ia merasakan sesuatu yang aneh di jantungnya. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan dag dig dug seperti orang yang lari 5km, tiba- tiba tangannya dingin seperti es. Hal itu membuatnya tak bisa menjawab sisa pertanyaan di hadapannya. Untungnya Aini hampir selesai, tinggal 2 soal yang belum ia jawab dari 20 soal yang ada. Seakan semua pelajaran yang ia pelajari hilang begitu saja. Tanpa sadar Aini mulai telah mulai jatuh cinta kepada Dika, Dika yang selama ini tak pernah ia perhatikan, kini telah mengisi lubuk hatinya. Sejak saat itu Aini selalu memandang Dika dari jauh, dia tak berani mendekatinya. Seolah tau dirinya serimg di pandang Aini, Dika mendekati Aini.
Akhirnya Dika dan Aini berteman dekat. Mereka sering jalan berdua. Dika selalu mengisi hari-hari Aini, mereka berbagi cerita, saling berhubungan. Tentu Aini sangat senang, karena pria yang ia cintai berada di dekatnya. Sayangnya semua hanya sementara. Saat suatu sore Dika mengajak Aini untu bertemu di taman. Awalnya mereka ngobrol dengan akrabnya, hingga .........
“Aini, gimana ya kalau kita nembak orang kita suka. Tapi kita gak tau dia suka atau gak sama kita?” tanya Dika serius.
“Mmm... di coba aja. Kamu sebagai pria yang jantan harus berani ngungkapin rasa cinta kamu” jawab Aini dengan pipi bersemu merah.
“kalau dia nolak, gimana?” tanya Dika lagi.
“nnggg... ngak mungkin dia nolak kamu. Mana mungkin sieh ada cewek yang mau nolak kapten basket SMA harapan negeri” jawab Aini sambil tersenyum.
“Ah, kamu bisa aja.. hehehe... “ kata Dika dengan senyum mengembang. “Aini.. eee. Sebenernya aku mau nyatain cinta.. ee.. sama.. sama..” ungkap Dika dengan gugup.
“sama.. sama siapa?” debaran hati Aini sangat kencang tak terbendung.
“sama...... Gilfy” seperti petir di siang bolong, ungkapan Dika membuat Aini tak bisa membendung air matanya.
“ Aku suka Gilfy sejak kelas dua smp, makasih ya ni selama ini kamu dah jadi temenku yang ngasih informasi tentang Gilfy”.
Aini menerawang jauh, ternyata ia hanya di manfaatkan untuk memberi informasi tentang teman sekelasnya, Gilfy. Pantas saja selama ini Dika selalu menanyakan hal-hal mengenai Gilfy, tapi Aini tak pernah menaruh curiga dengan hal itu. Dan benar, kedekatannya dengan Dika selama ini palsu. Aini hanya tertunduk lesu tak berani menatap wajah Dika yang telah mengacaukan isi hatinya.
“gue kok bego banget ya? Kok gue gak tau selama ini dia manfaatin gue” bisik Aini.
“hah, ada apa?” tanya Dika kepada aini.
“oh, gak papa. Oh, ya Dika hari aku ada janji sama ibu mau nemenin ke pasar. Aku pulang dulu ya?” Aini mengeluarkan kebohongannya agar bisa pergi secepatnya.
“loh, kok cepet banget? Kalau gitu, aku antar ya?” tawar Dika.
“gak usah, aku bisa naik taksi sendiri”
“beneran?” tanya Dika memastikan. Aini mengangguk pasti.....................
“Ni, Aini, Ni, Aini, loe gak papakan?” Rira mengguncang-guncang tubuh Aini, hingga ia tersadar dari lamunannya.
“oh, iya. Aku gak papa..” jawab Aini sambil tersenyum.
“oh, bagus deh. Aku takut sahabatku tersayang kesambet, bisa-bisa minta di bawain hyunbin lagi nanti”
“hahahaha... gak mungkin kesambet, orang aku udah temenan sama setannya. Nih, yang di sebelahku” goda Aini.
“sialan. Lagi sedih masih bisa ngerjain temennya yang cantik kaya katy perry” ucap Rira sambil mengibaskan rambutnya.
“huuuuu... eh, temenin keperpus ya abis bel pulang bunyi?” tanya Aini.
“sip deeeh” jawab Rira sambil mengedipkan sebelah matanya.
Lima menit kemudian bel berbunyi. Lantas, Rira dan Aini pun pergi menuju perpus. Tak di sangka ditengah jalan menuju perpus, mereka melihat Dika dan Gilfy sedang bercanda dan bermesraan di kantin sekolah yang tak jauh dari perpustakaan. Aini sudah tak tahan melihat mereka, akhirnya ia berlari pulang. Aini tak memperdulikan teriakan Rira memanggil namanya. Yang hanya di pikirkannya hanya Dika dan Gilfy, betapa hancur hati Aini atas kenyataan ini.
Sesampainya di rumah, Aini berlari kekamarnya lalu menguncinya. Tumpahlah semua air mata yang dari tadi di tahannya. Ibunya yang mengetahui ada sesuatu pada diri anaknya, berulang kali mengetuk pintu Aini.
“Aini..... Aini.... buka pintunya nak.. Aini!” ucap ibunya lembut. Aini hanya diam. “Aini.. buka pintunya.. keluarlah, makan dan ceritakan masalahmu pada ibu” ibunya terusmembujuk Aini, hingga akhirnya ia keluar. Ibunya tesenyum kepada Aini. Aini tampak lusuh dengan mata bengkak. Ibunya menggiringnya kemeja makan. Aini pun makandengan pelan-pelan. Selesai makan ibunya memulai perbincangan.
“ada masalah apa Aini?”. Aini hanya diam. “ceritakanlah masalah itu kepada ibiu, siapa tau ini akan membantu”
“nnggg.... ibu... a.. akuu..” Aini pun menceritakan kejadian demi kejadian yang di alaminya, dengan perhatian ibunya mendengarkan.
“menurut ibu, mencintai orang itu boleh dan sangat wajar. Tapi jangan terlalu sedih saat kita tau orang yang kita cintai tak mencintai kita” tatap ibunya. “ terima yang ada, dan berbahagialah, pasti ada yang mencintai dengan tulus. Contohnya ibu” ibunya tersenyum. “Dan pasti ada seorang pria yang baik di luar sedang menunggumu”.
“terima kasih ibu, you are my everything! I love you mom!!!’ Aini memeluk ibunya, dan akhirnya pun tertawa.
*****************
Langit begitu cerah di sore ini. Aku pun duduk termenung
melihat keindahan tersebut. Rumah begitu sepi. Ibu dan bapakku sejak tadi sore
pergi kerumah bibiku, rencananya ada yang jaga, lagi pula besok aku ada ulangan
fisika. Yah, jadilah aku satpam sehari. Lumayan nambah pengalaman, siapa tau
ada maling datang dan langsung deh. Ciat, ciaaatt, ciaat. Tendangan maut
terbang seperti film siluman di indosiar, terus naik elang menuju istana
langiiiiitt. yeeaaahh...... Aini, berhentilah berkhayal.
Hufh, seandainya Aini ada di rumah aku akan mengunjunginya
atau dia yang akan mengujungiku, jadi tidak terlalu sepi seperti ini. Karna
sudah seminggu Chiara pergi kerumah tantenya sekalian menjenguk kakaknya yang
berada di Surabaya, kata tante Mira yang minggu lalu ku temui. Tanda tanya
penuh menghiasi pikiranku, sejak kapan ia mempunyai kakak? Kok gak
bilang-bilang? Hmmm... semoga ia cepat pulang..
Kutersadar dari lamunanku setelah melihat cowok berkulit sawo
matang melintas di depan rumahku dengan motornya. Cowok itu mengingatkanku pada
Dika, yup Dika yang telah membuatku menangis tersedu-sedu, mewek-mewek gak
karuan. Kalau inget kejadian itu rasanya ngenes. Setelah aku tau bahwa Dika dan
Gilfy benar-benar pacaran, sebisa mungkin aku menahan diri untuk gak nyumpahin
mereka. Yah, mungkin cinta memang tidak bisa di paksakan pada orang yang kita
inginkan. Tapi pada kasus ini Dika memang bersalah, ngapain coba dia ngasih
harapan kalau ternyata harapan palsu? Iya gak? Hufh, Aini tahan dirimu. Oke
memang aku tidak berjodoh dengannya. Aku sudah bisa mulai melupakannya. Apalagi
setelah aku tau kepintarannya gak murni. Wuuihhh, aku baru tau ternyata Dika
itu raja nyontek, sangking rajanya ia bisa menyembunyikan berbagai cerpeaan di
tubuhnya. Aku bersyukur dia tak jadi pacarku. Apa coba gunanya punya cowok gak
bisa jadi panutan? Iya gak?. Hemm.. baru
deh akhirnya sadar. Hehehehehehe.
“KAKAAAAAAAAAAAAAAKKKKK”. Teriakan itu membuatku kaget
setengah mati, hampir aja aku melompat ke selokan sangking kagetnya. Untung aku
bisa menahan diri. Dan kulihat seorang gadis kecil berlari dan memelukku. Dia
Chiara, adik kecil yang kutunggu.
“Chiara kemana aja????? Kok gak pamit sama kakak?” tanya ku
sambil melepas pelukkannya.
“Chiara pergi ke Surabaya jemput kakak Nivo, maaf ya kak
chiara gak pamit sama kakak......” jawabnya sambil tersenyum mengembang.
“gak papa, yang penting kamu udah pulang” kataku menatapnya,
“kakak Nivo itu siapa Chiara?” tanyaku.
“itu” jawabnya sambil menujuk seorang cowok dibelakangnya,
yang sedari tadi tak ikusadari kehadirannya. “kenalin kak Aini, ini kakak
Chiara namanya Nivo” lanjutnya. Lalu kami saling berpandangan, sepertinya aku
mengenalnya. Tapi, di mana?
“KAMU!!!!” kata itu meluncur berbarengan dari mulut kami.
“kamu yang ikut olimpiade fisika tim B itu kan?” tanyaku
sambil masih terkaget-kaget.
“dan kamu tim A yang berhasil ngalahin tim kamikan?” tanyanya
juga dengan ekspresi kaget.
Iya, aku inget. dia cowok yang menabrakku saat olimpiade, saat itu istirahat aku membeli es kelapa dan membawanya masuk. dari arah berlawanan cowok itu menabrakku dan menumpahkan es kelapa yang kubawa. ia lansung meminta maaf dan ingin menggantinya, aku menolaknya. tapi ia terus memaksa dan menarikku ke penjual es itu, bahkan ia juga menraktirku makan bakso. sungguh lucu baru kenal tapi sok akrab, tapi setelah itu kami tidak pernah berhubungannya.
"hahaha.. lucu ya waktu itu??" kataku padanya.
"haha.. iya. maaf ya waktu itu aku numpahin es kamu?"jawabnya.
"udah ku maafin, malah aku seneng kamu traktir bakso" aku tersenyum.
"kakak.. kakak... es? bakso? kapan kakak makan kok Chiara gak di ajak?"tanya Chiara yang sedari tadi kami lupakan kehadirannya.
"Itu dulu Chiara.." jawabku sambil tersenyum..
"mmmm... Aini, aku seneng ketemu kamu lagi..." kata Nivo sambil tersenyum kepadaku penuh arti, yang membuatku tertegun sejenak.
"Iya, aku juga....' jawabku sambil memandang kearahnya. kami saling berpandangan hingga lamanya.. Iya, cinta tak bisa di tebak kapan datangnya..
"mmmm... Aini, aku seneng ketemu kamu lagi..." kata Nivo sambil tersenyum kepadaku penuh arti, yang membuatku tertegun sejenak.
"Iya, aku juga....' jawabku sambil memandang kearahnya. kami saling berpandangan hingga lamanya.. Iya, cinta tak bisa di tebak kapan datangnya..
0 komentar:
Posting Komentar