Flying Cute Green Butterfly Alora... Oh, Alora! | hellooow! selamat menikmati! (^_^)

Sabtu, 21 Juli 2012

Alora... Oh, Alora!


Aaarrrrgghh........ sumpah, aku gemeeeeeess bangeet!!!!!!!!!! Kau tau? Sekarang sudah jam 07.25! sedangkan bel tanda masuk berbunyi pada pukul 07.30!!!!! padahal sekarang aku sudah berada di dalam sihijau bantat yang disesaki seabrek manusia, dan perjalanan masih setengah lagi. Gara-gara supir angkot sialan yang menjalankan angkotnya dengan sangat lambat, mungkin kura-kura pun bisa membalapnya. Dan mungkin kalau saja aku sudah tak punya urat malu lagi,aku pasti sudah berteriak WOOOIIIII
SIALAN LOE!! GUE GAK MAU BERSIHIN KOLAM PENUH KODOK GARA-GARA TELAAAAAAT. Ya, itu memang benar hukuman untuk siswa diSMPku memang bermacam-macam. Contoh, keliling lapangan sambil ngucapin “kami tidak akan telat lagi”, mungutin sampah sesuai ukuran yang diperintah, bersihin WC gak pake sepatu, nyanyi lagu wajib nasional selama 1 jam sambil hormat bendera, salah satu yang paling aku takuti membersihkan kolam keruh penuh kodok & sampah yang ada di samping sekolah. Ya ampun, guru selalu punya ‘cara’ untuk menyiksa muridnya. Dan dengan keadaan ini sudah bisa dipastikan aku telat kecuali tiba-tiba supir angkotnya berubah menjadi Rio Hariyanto, dan itu gak mungkin banget. Untungnya, ada cowok cakep disampingku, lumayan untuk hiburan.hehehe... Dalam keadaan ini aku jadi inget Felia.
Felia adalah teman sekelasku dikelas 9 ini. Apa yang membuatnya istimewa? Tentu saja mobil ‘WOW’ dan kekayaannya. Kau tau? Ayah Felia adalaah pengusaha restoran terkenal yaitu bebek pedaazz yang ada dikotaku dan banyak membuka cabang di berbagai kota, bahkan sudah ada cabang yang berada di jakarta & jawa timur. semula aku tak mengira dia adalah anak orang kaya, sebab dandannya sedeharna dan dia pun tidak pernah membicarakan kekayaannya padaku. Aku baru meyadari itu setelah aku melihat mobil ‘WOW’ yang menjemputnya, dan informasi dari temanku tentang restoran bebek pedazznya. Baru kusadari juga semua yang ia pakai bermerek semua. Huft, pasti menyenangkan menjadi dirinya. Dihargai, mempunyai baju yang bagus-bagus, bisa mentraktir teman kapanpun kau mau, dan mempunyai mobil ‘WOW’ plus supir pribadi yang siap mengantantarkan mu kemana saja walau itu kebulan. Dan ia tak perlu berdesak-desakkan diangkot sepertiku. Tapi, kalau dipikir-pikir, Felia pasti jarang menemukan cowok cakep secara tiba-tiba di mobilnya.hehe.......
Tunggu, sepertinya angkotku baru saja melintasi bank BNI. Gawat!! Sekolahku berada sebelum bank itu.
“KIRIIIIIIIIIIIIIII!!!!!!!!!” aku langsung keluar dari si hijau bantat dan membayar selembar kertas bergambar pangeran Antasari, aku sudah tak memperdulikan para penumpang yang menutup telinga karna mendengar suaraku yang menggelegar. Dengan setengah berlari ku menuju sekolahku. Sayang di sayang, kumis pak Eko beserta pemiliknya dengan setia menunggu para murid yang terlambat sepertiku. Melihat kumis pak Eko aku baru berpikir, kenapa guru cowok yang killer selalu identik dengan kumis? Mungkin kalau aku sudah menjadi profesor, ku akan menelitinya, kan lumayan buat pengetahuan. Baru saja aku sampai di gerbang pak Eko sudah memulai perbincangan menyenangkan denganku.
“kamu tau ini sudah jam berapa?”, tanya pak Eko dengan tegas tanpa dibuat-buat.
“tau pak, ini sudah jam 07.37”, jawabku polos.
“YANG NANYA JAM KE KAMU ITU SIAPA??????” bentak pak Eko. Heran, padahal tadi jelas-jelas nanya jam, kenapa sekarang marah. “sekarang cepat kelapangan bersama teman-temanmu yang juga TERLAMBAT”, lanjut pak Eko. Aku pun bergegas kelapangangan, kulihat ada sekitar 10 siswa sedang berdiri disana dengan ekspresi takut plus pucat. Setelah aku ikut berdiri bersama mereka, pak Eko memulai ‘ceramah paginya’ untuk kami. Karna aku males mendengarnya, aku pun mengedarkan pandangan ku keseluruh kelas. Tak sengaja mataku melihat sesosok gadis yang kukenal, tak sengaja pula gadis itu melihat ke arahku, mula-mula ia kaget melihatku lalu tersenyum sinis kepadaku. Dan mengibaskan rambut panjang+lebatnya, dan pergi. Uuuuggh, kenapa sih di saat-saat seperti ini aku harus bertemu dengannya?! Pake ngibasin rambut segala, aku jadi inget Milo kucing milik Rilfa saat mengibaskan bulunya.
Gadis itu bernama Vanya. Vanya adalah cewek yang dulu pernah sekelas denganku saat kelas 8 dulu. Ia adalah cewek populer serta aktif di osis, bahkan sangat sangat sangat aktif aku pun tak tau apa saja yang dikerjakannya disana. Vanya tidak menyukaiku, mungkin malah membenciku. Karna dulu aku pernah menjambaknya saat tampil drama yang ditugaskan guru Bahasa Indonesiaku, aku kebetulan sekelompok dengannya, miss sok cantik itu tentu menjadi bawang putih yang sangat berbeda dengan sifatnya, dan aku menjadi ibu tiri yang jahat (teman-temanku selalu bilang muka ku lebih cocok untuk peran antagonis, sialan). saat itu aku tidak sengaja, Saat aku terbawa emosi dengan peran yang ku perankan dan teringat dosa-dosanya padaku, kujambak rambutnya, tentu ia sangat marah, padahal aku tidak kencang menjambaknya. Karena dulu, ia sangat meremehkanku dan menatap rendah karna aku bukanlah anak orang kaya yang mempunyai banyak perusahaan sepertinya. Padahal keluargaku itu tidak miskin, bahkan bisa dbilang ‘lumayan’ untuk ukuran orang desa. yah memang bukan sepertinya, tapi aku sangat bersyukur karna ku bisa sekolah dismp favorit. Satu lagi yang membuatku sebal dengannya, ia sangat di gila-gilai cowok di sekolah. Padahal sifatnya sangat menyebalkan. Dan paling menyebalkan saat dulu kakak kelas yang ku taksir karna kami dulu satu ekskul sedang berbincang sangat akrab dengan Vanya. Rrrggghh.. aku geram sekali dengannya. Aku sangat senang saat kelas 9 ini aku tidak sekelas lagi dengannya. dan saat tadi aku melihatnya lagi, rasanya aku ingin........
“Hei kamu yang berkepang dua!!!!!” aku kaget & tersadar dari lamunanku dan ku lihat pak Eko sedang menatapku tajam. “ dengarkan bapak! Sudah telat tidak memperhatikan lagi, kamu kira ini sekolah BAPAKMU apa?” lanjut pak eko. Uugh, aku malah senang kalau ini sekolah bapakku.
Pak eko lalu menatap murid lain dan berkata “untuk hukuman kalian kali ini, semua bersihkan kolam yang ada di samping sekolah!”. Ya Tuhan, seandainya ada kasur di bawahku aku akan pingsan.
*******
“ya ampun Loraaaaa, kamu kemana aja?? Untung hari ini pak Basri gak masuk”, tanya temanku yang langsung menghampiriku.
“hhmmm,kena ‘ceramah pagi’ plus ‘pekerjaan mulia’ dari pak Eko lagi Jen”, jawabku lesu sambil meletakkan tasku yang super berat, dan duduk.
“makanya berangkat lebih pagi!”, nasehat Jenny, aku Cuma bisa nyengir kuda. Jenny adalah gadis yang akrab denganku di kelas.Dia adalah gadis manis berkacamata dan berambut pendek yang sangat pintar. bahkan kepintarannya telah membawanya ke olimpiade fisika tingkat nasional, sayang dia tidak berhasil membawa emas dan mendapatkan perak .ia juga pintar bahasa inggris, salah satu mata pelajaran yang ingin ku lenyapkan dari muka bumi. Sungguh menyenangkan menjadi temannya, kau jadi kelihatan pintar juga haha. Dia membantuku memahami beberapa materi pelajaran, dan membantuku agar bisa bahasa inggris. Sungguh menyenangkan menjadi dirinya.....
“Ra...Ra....RRAAAAAAAAAAA!!!!!!!”. jenny mengguncang –guncang badanku dan berteriak di telingaku.
“WOOOOIIIIIIIIII...... sekalian aja lu bawa mikrofon langgar, terus teriak deh dikupingku!”.
“hehehehe.....”. Jenny cuma nyengir.
Teeeeeeet....... teeeeeet....... bel berbunyi nyaring yang mununjukan jam pelajaran telah berganti. Benar saja, tak lama kemudian Bu Nova suda berada di kelas kami dan membawa segebok kertas ulangan kami yang mengerikan. Wajahku sudah pucat tak karuan, karna saat ulangan matematika kemarin aku tidak belajar.
“pagi anak-anak”.
“pagi buuuuuuuuu........”.
“hari ini ibu akan membagi hasil ulangan kalian”. “Ita....... Rama.... Rio..... Rahmah..... Alora Diffany Mina”, deg, perasaanku sudah tak enak karena hanya aku dipanggil dengan nama panjang. Aku pun maju dengan gugup dan ibu Nova berkata “lebih rajin belajar, karna kamu sudah kelas 9”. Kuambil secarik kertas, dan kulihat. Ya ampun, 5!! Dan kau tau nilai yang di dapatkan Jenny? Hampir sempurna 9,75.
                                                                ********************
Ku berlari menuju tempat latihanku, bukan karna kutelat. Yaaaaa, iseng aja emang gak boleh apa jessica iskandar mau datang lebih awal?. Saat sampai di sana kudapati sahabatku, Rilfa beserta  beberapa anak taekwondo-in yang merupakan alumni SMPku yang masih aktif latihan sedang menunggu anak lain datang.
“Rilfaaaaaaa.........”, teriakku
“Loraaaaa.... “, dengan ekspresi senang ia menghampiriku. “lora, aku punya kabar baik!”.
“waah, apaan tuh?”, tanyaku dengan ekspresi ikut senang.
“Lora, aku akan ikut tanding lagi! nanti bulan depan aku akan bertanding tingkat provinsi”.
“oh, ya???? Enak dong! Nanti kalau menang traktir aku yaa??”jawabku antusias, Rilfa mengedipkan matanya yangg berarti iya. Aku pun duduk, dan memperhatikan rilfa yang sedang ngorol dan tertawa bersama anak taekwondo yang semua cowok. Ada sieh anggota taekwondo yang cewek, tapi mereka jarang latihan. Hhmmm, sungguh beruntung temanku ini. Selain dia tinggi, berkulit bersih,berwajah manis, mempunyai rambut panjang & tebal. Dia juga terpilih sebagai atlet fight,karena ia mempunyai skill yang bagus dan tinggi badan yang cukup, satu lagi karena ia tega. Ini masalah kenapa aku gak jadi atlet fight. Aku adalah gadis yang gak tinggi bila dibandingkan anak taekwondo yang rata-rata kaya’ tiang listrik. Aku juga gak tega kalau nendang orang tanpa ada masalah. Tujuanku ikut bela diri saat kelas 7 dan berlanjut saat sampai sekarang karena ingin menurunkan berat badan dan untuk pertahanan diri. Yaaaa... maklum,badanku agak sedikit.. kau tau? Sebenarnya badanku itu langsing, tapi yang bermasalah itu paha dan kakiku yang tergolong besar + berat. Jadi, kau bisa menyimpulkan sendirikan?? Rilfa juga punya satu hal yang kuirikan ia bisa ngobrol dengan akrab kepada siapa saja, seperti supir angkot, tukang pentol, ibu-ibu, sabum (pelatih, Korea), dan mahkluk yang biasa di sebut cowok. Aku punya sedikit masalah saat ngobrol dengan cowok, aku grogi dan tak punya bahan obrolan. Seandainya aku.......
“ Lora, jangan melamun!cepat pakai dobok (baju latihan) dan baris seperti yang lainnya. Dalam hitungan ke30 kamu harus sudah siap! 1..2..3..4..5..........” perintah sabum. Dengan kekuatan kilat, kupakai dobok+sabuk dan berlari menuju barisan. Nyaris saja aku kena hukuman push up. Fiuhh...
                                                                                *******************
Tik...tik...tik.. butiran air hujan jatuh mengenai telapak tanganku seolah ikut menghitung detik-detik waktu yang terlewat. Musim hujan baru datang di bulan ini, Desember. Sudah bulan Desember, belum ada perubahan dalam diriku yang bisa kubanggakan. Berbeda dengan Felia yang baru saja di belikan rumah sendiri. Ya ampun diakan baru berumur 14tahun!!!. Vanya yang baru saja mendapatkan pacar baru+ mendapat kesempatan menjadi MC disalah satu mall. Yaah, selain modal sok cantiknya, ia juga mempunyai bakat untuk menjadi MC dengan suara merdunya (mungkin baru kali ini aku memujinya). Jenny, baru saja di pilih sebagai wakil untuk lomba debat dengan bahasa Inggris. Ckckck, mau debat aja harus ribet dengan bahasa Inggris. Rilfa, berhasil mendapatkan mendali perunggu saat pertandingan tingkat provinsi. Ia sedih karena hanya mendapatkan itu, dan sebagai sahabat tentu aku menghiburnya. Ku arahkan pandanganku kejalan raya untuk memastikan apakah ada angkot atau tidak, ternyata belum. Lalu kuedaran pandanganku bagian halte yang kutempati. Banyak orang berada disini, tapi tidak untuk mencari angkot Cuma berteduh. Hufh, belum pernah rasanya aku semelow ini. Tak lama kemudian angkot pun datang. aku masuk, dan duduk di pojok. Sungguh mengenaskan. Selama perjalanan aku hanya melamun, sampai tak sadar aku sudah sampai. Kulangkahkan kakiku menuju rumahku. Sesampainya di rumah aku hanya bisa mengucapkan salam, dan masuk kamar. Mungkin ibuku tau akan kegalauanku, dan membuatkanku mie kesukaanku. Yaaah, itu sedikit membuatku terhibur, tapi belum bisa mengusir kegundahanku. Selesai makan, ibuku mengajakku berbicara.
“lora, kamu kenapa? Kalau ada masalah bicarakan dengan ibu”, tanya ibuku dengan halus.
“nnggg.... gak ada bu..” jawabku bohong
“jangan bohong. Ibu tau kamu sedang ada masalah”
“ nnggg.... menurutku Tuhan itu tidak adil”, jawabku.
“ lora, kamu gak boleh berbicara seperti itu. Tuhan itu adil. Kenapa kamu berpikir seperti itu?”.
“ kenapa semua orang dikasih kelebihan sedangkan aku tidak punya bakat apapun”.
“ kamu punya, dan kamu akan menemukannya. Dan  Kamu seharusnya bersyukur masih bisa sekolah, makan, dan tinggal dirumah. Coba bayangkan anak-anak yang terlantar dipinggir jalan! Makan seadanya, nasibmu masih lebih baik dari merka”.
“ibu gak ngerti perasaanku”, bulir-bulir air mulai mengalir dipipiku.
“ Lora, kamu gak boleh begini, ibu tidak pernah mengajari mu membangkang kepada orang tua”. Ibu menatapku “kamu harus merenungkan hal ini!”, lalu ibuku pergi dari kamarku. Sungguh tak ada yang berpihak padaku. Oh, kapan keajaiban datang.
                                                                ******************
Ku telusur jalan-jalan menuju toko buku yang ingin kudatangi. Tak sengaja kulihat ada dua bocah berumur sekitar 6 & 7 tahun sedang duduk sambil mengobrol ditrotoar sambil membawa karung yang cukup penuh. Wajah mereka lusuh dan memakai baju yang lusuh pula. Tapi, wajah mereka menunjukan ekspresi ceria. Aku jadi tertarik dan aku menghampiri mereka.
“dek, kakak boleh duduk disini?”, tanyaku. Awalnya mereka kaget melihatku, namun akhirnya mereka tersenyum padaku.
“boleh kak”, jawab anak yang lebih tua dari satunya, sepertinya dia kakak dari anak satunya.
“kalian bawa apa???”, tanyaku sambil melihat karung mereka.
“bawa plastik bekas kak”
“buat apa”
“buat di jual, nanti dapet duit. Lumayan kak bisa bantuin ibu untuk biaya makan sama sekolah. Kasian ibu, cari uang sendiri”, ya ampun mereka sudah dewasa sebelum waktunya. Lalu aku mengeluarkan dua buah uang sepuluhribu.
“ini uang untuk kalian, gunakan sebaik-baiknya. Tetap semangat dan tetap patuh dengan orang tua kalian!”, dua anak itu tersenyum sangat lebar aku suka melihatnya.
“terima kasih kakak!”
“kakak pulang dulu ya?”, mereka mengangguk pasti. Aku langsung pulang, tak jadi membeli buku. Entalah, selama perjalanan aku merasa ada sesuatu perasaan bahagia yang menjalar dalam tubuhku.sungguh, seandainya aku melakukannya dari dulu. Dua bocah tadi menyadarkanku, aku merasa bersalah kepada Tuhan dan orang tuaku. Ternyata Tuhan maha adil, karena aku masih diberi kesempatan untuk sekolah tanpa bekerja. Tuhan maafkan hambamu yang bersalah ini. Ibu, yang telah membesarkanku. Dan bapak yang selalu bekerja dengan tekun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan keinginanku. Aku merasa bersalah, kenapa selama ini aku hanya bisa mengeluh dan tak memperdulikan kedua orang tuaku, aku juga jarang membantu mereka. Seharusnya aku memikirkan cara membuat orang tuaku dan orang di dekatku bahagia. Bukan memikirkan kelebihan orang lain. Tak terasa, kakiku sudah melangkah ke halaman rumah, kudapati ibuku sedang mengambil pakaian dari jemuran. Aku masuk rumah, dan langsung kekamar. Kudapati kamarku yang berantakan dengan buku. Sebuah ide melintas di pikiranku untuk membuat orang tuaku dan aku bahagia. Aku berpikir kenapa aku tidak belajar yang tekun agar bisa mendapatkan nilai yang tinggi dan mendapat beasiswa. Yaa, setidaknya cara itu lebih ringkas dari pada aku mencari bakat yang belum aku temukan. Aku mulai belajar dengan tekun. Hampir di setiap tempat dan di setiap saat aku menghapal apa yang sudah aku pelajari. Dan, tentu saja mengasah bahasa inggrisku dengan berlatih pada Jenny. Awalnya susah, tapi lama-lama aku mulai terbiasa. Sebulan waktu berlalu, Januari pun menyapa. Saatnya kelas 9 untuk try out yang pertama. Aku sangat deg-degan walau sudah belajar. Try out pertama berhasil kulalui sampai hari terakhir. Aku keluar dari ruangan tes, di luar masih sepi banyak yang belum keluar. Kulihat ada Vanya duduk sendirian dengan gelisah. Aku pun menghampirinya, bukan untuk mencari masalah, tapi untuk meminta maaf karena telah menjambaknya. Lagi pula kalau di pikir-pikir Vanya tidak bersalah saat dekat dengan kakak kelas yang kutaksir. Karena dia pasti tidak tau kalau itu cowok yang aku suka.
“hai Vanya! Eeee... aku boleh duduk di sini?”, tanyaku denan nada seramah mungkin.
“oh... eh... iya boleh silahkan”, Vanya tampak canggung, tapi ia mempersilahkan ku duduk.
“eeee.... gimana tadi try outnya?? Bisa?”.
“mmm..... bisa, kamu?”, jawab Vanya yang masih terlihat gelisah.
“bisa juga. Kamu kenapa? kaya’nya resah “, tanyaku.
“aku... aku mau pulang lebih cepat karena ada urusan. Tapi supirku belum jemput, dan pulsaku habis, aku tidak bisa menghubungi”.
“kenapa gak beli pulsa atau minjem hp temenmu?.
“konter pulsanya tutup dan temenku masih didalam, aku harus buru-buru pulang”.
“ yaudah, nieh pake aja hpku, walau gak sebagus hpmu tapi masih ada pulsanya kok”.
Vanya pun memakai hpku. “ makasih ya?”,Vanya mengembalikan hpku. “ lora aku mau minta maaf... eee.. karena aku menganggap kamu sok-sokan sekolah disini, maaf”.
“ iya, aku juga minta maaf karena aku menjambakmu tempo hari”, ada rasa lega.
“ya, makasih ya kamu udah mau maafin aku?”, senyum mengembang di wajahnya.
“tentu saja”, jawabku. Kami akhirnya mengobrol dengan akrab, tak kusangka Vanya adalah teman yang baik dan asik diajak ngobrol. Pantas saja ia banyak yang naksir selain karena ia cantik. Akhirnya, obrolan kami berakhir saat mobil Vanya menjemputnya.
                                                                                ***************
Yes, try out 1 berhasil! Wow aku senang, walau nilaiku masih lumayan. Tapi aku bahagia bahasa inggrisku meningkat, nilainya 8!!
Yes, taekwondo! Bukan berhasil jadi atlet fight karena tinggi tiba-tiba, tapi sekarang aku jadi lebih akrab ddengan anak taekwondo yang cowok, gak grogi + gak kehabisan obrolan.
Yes, try out kedua! walau lebih sulit dari try out pertama, tapi aku berhasil mendapat nilai lebih tinggi dari try out pertama.
Yes, try out ketiga! Soalnya lebih mudah dari try out kedua, sempet deg-degan. Alhamdulillah nilaiku meningkat lagi!
Yes, cinta! Belum ada yang berani nembak = masih belum punya pacar.
Yes, UN! Oh, no. Jantungku terus memompa darah dengan sangat cepat saat pengawas menggunting amplom soal ujian, dan taraaaa.... aku sangat bersyukur! Soalnya banyak yang sudah kupelajai. Tapi aku tetap was-was takut scanner salah membaca. (ku saranin scanner harus sekolah lagi, supaya gak salah-salah baca).
Yes, besiswa! Gak nyangka aku masuk 5 besar. Oke sekali lagi 5BESAR!! Tepatnya peringkat 4 seprovinsi. Jenny peringkat 3, susah banget ngalahin dia. Tentu saja, dengan masuk 5 besar aku akan mendapatkan beasiswa. Orang tuaku terlihat sangat bahagia, aku senang bisa memberikan sesuatu yang bisa membuat orang tuaku bahagia.
Yes, terkenal! Bukan seperti ayu ting-ting sieh, tapi ada beberapaadik kelas yang mengenalku karna blogku. Oh, yeah. Guru TIKku, bu sita memberi kami tugas untuk membuat blog sebagai penilaian terakhir. Saat membuat blog aku bingung harus kuisi apa. Mau di isi kacang ijo takut kemanisan. Mau diisi sambel, kasihan yang gak doyan cabe’. Jadi aku isi dengan cerpen, puisi, dan lelucon yang gak aku tau itu lucu atau gak. Tak disangka, ternyata itu disukai. Hei, aku baru saja menemukan bakatku.
                                                                                ************
Ku lihat satu persatu buku yang tersusun apik dirak buku perpustakaan SMA ku. Horeee.... sekarang aku sudah 3 bulan resmi menjadi anak SMA. Aku masuk sma favorit di provinsiku, tentu dengan besiswa. Aku senang tidak merepotkan orang tuaku. Rilfa satu sekolah denganku, asik. Sayang, Jenny dia sekolah di SMA favorit di lain kota. Vanya dan Felia sekolah di jakarta, jelas karna mereka kaya. Aku masih bisa berhubungan dengan Vanya, sekarang dia menjadi teman baikku. Disini, semuanya baik. Tapi dulu, ada kakak kelas yang rese’. Dia Yoga, kakak pan MOS. Sebenarnya dia orangnya pendiam, tapi sekali ngomong, nyebelin banget. Dia selalu komentar apa yang ku perbuat, apalagi karne aku ketua kelas. Dia selalu komentar gak enak , yang bilang kelompokku gak kompaklah, yang gak baguslah, yang kurang menariklah, yang ketuanya kependekanlah (sialan, mentang-mentang tinggi). Walhasil kami selalu bertengkar, sampai sebulan penuh kami bertengkar. Hingga akhirnya kami baikan, mungkin kami cape’ senam mulut terus. Jadi kami pun mulai dekat. Aku naksir dia, tentu karena ia cakep dan baik. Aku tidak banyak berharap padanya, banyak yang menyukainya.
BBRUUKK!! Sepertinya ada suara buku jatuh di rak sebelah. Aku pun melangkahkan kaki ke sumber suara yang tak jauh dari tempatku berdiri. Ternyata Yoga, yang cepat-cepat membereskan buku yang jatuh akibat ulahnya.
“kak Yoga?! Lagi ngapain di sini?”, tanyaku. Yoga tampak kaget.
“eee.... aku.. aku lagi cari buku... buku psikologi!!”, jawabnya gugup.
“Lho, inikan rak buku tentang alam”, jawabku heran.
“ eh, iyaya?”, kata Yogi tampak kikuk.
“ oohh, jangan-jangan lagi ngeliatin aku yaa???”, tanyaku iseng.
“HAH’ kok kamu tau”, jawabnya kaget.
“lho, jadi beneran?”, tanyaku lebih kaget.
“ eeeee.... aku mau ngomong sesuatu , aku... aku... suka sama kamu.kamu mau jadi pacarku? Aku mohon kamu terima aku, memang ini terlalu cepat, tapi aku takut kamu diambil orang”. Pernyataannya membuatku kaget. Namun sedetik kemudian..
“HWAHAHAHAHAHAHA.....”, aku tertawa .
“ kok ketawa?”.
“abis kamu lucu.. hahahaha”.
“aku serius!”, aku diam, kutatap matanya. Benar dia serius. Lalu aku mengangguk dengan pipi bersemu merah. Yeah, ibu benar. Cinta akan datang tepat pada waktunya.

0 komentar:

Posting Komentar

 

hellooow! Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template