kali ini admin akan kasih sebuah cerpen tentang mempertahankan cita-cita seorang gadis bersama Sery. selamat menikamati...
Ku goreskan beberapa warna dikertas yang ada didepanku. Menggoresnya dengan penuh semangat. Kombinasi warna jingga, hijau, dan coklat menjadi pilihanku. Perfect! Akhirnya aku berhasil menyelesaikan desainku.
Ku goreskan beberapa warna dikertas yang ada didepanku. Menggoresnya dengan penuh semangat. Kombinasi warna jingga, hijau, dan coklat menjadi pilihanku. Perfect! Akhirnya aku berhasil menyelesaikan desainku.
“Bagaimana Sery,
sudah selesai?”, tanya bu Tria sambil menghampiriku.
“Sudah bu.
Ini, bagaimana menurut ibu?”, kataku sambil menyerahkan desainku, dan
berharap-harap cemas. Masih belum ada ekspresi pada wajah Ibu Tria. Semakin
membuatku cemas.
“Bagus,
perkembangkanmu sangat pesat” kata bu Tria dengan senyum mengembang di
bibirnya, yang jelas membuatku senang bukan kepalang. “oke, kita lanjutkan
minggu depan. Jangan lupa untuk membawa bahan untuk desain kalian
masing-masing”, kata bu Tria mengakhiri pelajarannya hari ini.
**********
Untuk kedua
kalinya aku melihat jam ditanganku. Tepat pukul 5 sore. Namun, Chika temanku yg
kutunggu-tunggu belum juga keluar dari gedung yg bertuliskan Vlaresta
itu. Akhirnya temanku yang kutunggu keluar juga, sambil melambaikan tangannya padaku,
dan berlari-lari seperti penumpang yang ketinggalan angkot.
“Woi, lama
banget. Ngapain di dalem? Disuruh ngepel?”, tanyaku.
“Bukan
ngepel, tapi nyuci. Hehe.. Ya enggaklah, sorry ya lama”, jawabnya dengan setengah
ngos-ngoskan.
“iya gak
papa kok, hampir aja tadi ngampar tikar terus jualan deh”, kataku yg dibalas
dengan nyengir kuda Chika. “ ayo jalan”, kami berjalan menyusuri trotoar.
“Oh ya Ser, tadi
belajar berjalan anggun menggunakan gaun panjang” kata Chika memandangku.
“Oh ya?
Hmm.. siep-siep. Thanks ya” jawabku.
“Serr”
“ Iya, ada
apa?”
“Sebaiknya
hari ini waktu yang tepat untuk bilang kemamamu apa yang terjadi sebenarnya”,
tampak ekspresi gelisah menghiasi wajah Chika.
“Hmm.. tapi,
aku belum siap”
“Kamu harus
siap, kapan lagi kamu mau bilang? Ini sudah satu bulan Ser. Aku gak enak sama
mamamu, beliau udah ngasih banyak. Masa’ aku dengan teganya bohongin mamamu”
“Tapi, mau
gimana lagi. Kamu tau sendirikan gimana mama? Aku juga gak tega bohongin.
Please, tolong jaga rahasia ini sampai aku siap” dengan muka memohon pada
Chika. Keraguan muncul diwajahnya, namun ia mengangguk kecil. “thanks”. Sebuah
mobil hitam yang datang menjeputku telah mengakhiri perbincangan kami. Lambaian
tangan pun.
********
Ku
melihat-lihat lagi desain-desain bajuku, dan tersenyum-senyum tak jelas seperti
orang gila. Membayangkan bagaiman bila semua hasil rancanganku berhasil di
pajang. Pasti aku sangat senang. banyak orang yang kan datang, wartawan akan
mewawancaraiku, desinku akan digunakan artis terkenal, dan aku akan menjadi
legenda.
“Sery...
sery.. sery” tiba-tiba suara itu mengagetkanku, aku pun dengan refleks
memasukan kertas-kertasku kedalam lemari.
“Iya ma,
masuk” jawabku sambil mengambil sebuah buku, dan pura-pura membacanya. Tak
berapa lama pintuku dibuka.
“Hai sayang,
kamu lagi ngapain?”, tanya mama sambil menghapiriku dikasur yang kududuki.
“Ngg.. ini
ma, lagi baca buku. Mm.. mama baru pulang?”
“Iya,
pekerjaan mama udah selesai. Nah, ini ada oleh-oleh buat kamu”, kata mamaku sambil
menyerahkan sebuah bingkisan berwarna kuning. Warna favoritku.
“Makasih ma”,
ucapku sambil tersenyum ke arah mama.
“Oh ya,
bagaimana dengan les modelingmu?”, pertanyaan itu mampu membuat senyumku luntur
seketika.
“Ng.. ng..
bagus.. eh, Sery kerasan. Kemaren baru belajar berjalan anggun”, jawabku
tersendat.
“Oh ya, mama
senang kalau begitu. Eh, ada satu lagi. Ini”, kata mama sambil menyerahkan
kotak yang cukup besar.
“Apa ini
ma?” tanyaku dengan dahi berkerut.
“Ini baju
yang pernah mama pakai saat mama jadi model dulu” kubuka kotak itu, ada
beberapa gaun dan baju bergaya 90’an. Baju itu tampak spektakuler, walapun sedikit
kuno. Pikiran terbang melayang membayangkan apa yang bisa kulakukan pada baju
dan gaun itu, membuatnya menjadi lebih modern. “Sery, mama berharap. Kamu bisa
mengikuti jejak mama menjadi model, dan bisa memakai baju spektakuler sepeti
mama” kata itu membuatku tercekat, air mataku hampir menetes mendengar itu. Aku
harus berkata sejujurnya sebelum semua terlambat.
“Mama”
“Iya sayang”
“Ma,
sebenarnya... Sery gak pernah ikut les modeling” tampak sekali keterkejutan
diwajah mama. “Sebenarnya Sery menyuruh Chika untuk gantiin sery untuk les
modeling. Karena menurut Sery model bukan bidang yang cocok buat Sery, Sery
lebih suka menjadi desainer”
“Sery,
kenapa kamu bisa seperti itu? Mama gak pernah menyuruhmu untuk berbohong.
Modeling itu cocok untuk kamu ser,kamu cantik”
“Tapi sery
gak nyaman ma. Itu lebih cocok buat Chika. Sery gak bisa. Selama ini Sery
kursus mendesain karna itu yang Sery suka”
“gak bisa,
kamu tetap harus jadi model. Kamu korbanin temen kamu demi keegoisanmu untuk
ikut kursus desain. Pokoknya, mama akan suruh mang ujang ngaterin kamu sampai
kedalam kelas”
“mama....”
“jangan
coba-coba bohongin mama lagi” mamaku berlalu, dan pergi meninggalkan kamarku.
Air mata pun tak dapat agi kutahan. Entah apa yang harus aku lakukan.
******
“sabar ya
ser, pasti semua ada hikmahnya”
“tapi,
kenapa mama gak bisa ngertiin.. hiks.. hiks” air mataku menhgalir dan membasahi
hanphoneku.
“kamu harus
yakinin lagi mama kamu apa yang kamu suka, pasti nanti mama kamu bisa
ngerti”aku berfikir sejenak, dan tiba-tiba ide melintas. Aku teringat pada bu
Tria tentang pengumannya minngu lalu.
“Chi, kamu
bsa gak datang kerumahku terus minta mama ngijin aku keluar. Bilang aja kita
ada tugas kelompok atau apa. Aku harus nemuin bu Tria” kataku mantap.
“ngg..
tapi...”
“please, ini
jalan yg bisa yakinin mama”
“oke” lalu
telpon ditutup. Aku langsung menuju lemari dan mencari-cari. Nah, ini dia. Baju
mama. Aku akan membuat suatu kejutan untu mama.
******
“ibu Friska,
Ibu Friska, ada surat buat ibu” seorang wanita paruh baya menghampiri seorang
ibu dengan pakaian elit.
“oh, makasih
ya mbok ijem” lalu mbok ijem pun berlalu. Ibu itu membuka surat tersebut. Lalu
menaikkan kedua alisnya. Disurat itu tertulis Pergelaran busana vintage karya remaja...
********
Gedung mulai
terlihat ramai oleh para pengunjung. Dengan cemas aku melihat kursi terdepan
yang masih kosong, dan melirik kejam. Jam 9.25. lima menit lagi acara akan
dimulai, tapi kenapa dia belum juga datang. chiara pun menghampiriku.
“Gimana Ser?
Belum datang juga ya?”
“iya nieh,
mama mau datang gak ya? Bentar lagi mulai” mukaku bertambah cemas.
“udah sabar
aja, pasti mama kamu akan datang” kata Chika menenangkanku.
“Sery,
Chika. Ayo siap-siap” bu Tria mengkode kami untuk kebelakang panggung. Semoga
mama datang.
Acara pun
dimulai. Acara ini memamerkan karya-karya dari 3 perancang muda. Perancang
pertama memamerkan gaya 70’an. Dengan dominasi warna coklat yang elegan.
Perancang kedua memamerkan gaya 80’an. Dengan kombinasi corak polkadot dan
garis-garis. Tibalah rancanganku akan dipamerkan, gaya 90’an yang berdominasi
motif kotak-kotak. Deg-degan pun tak dapat ku hindari, Chiara yang memeragakan
busana hasil rancanganku. Hingga namaku dipanggill sebagai perancang.
“daaan.. ini
dia perancang terbaik kita.. Seryla Venoly” terdengar tepuk tangan yang sangat
meriah, membuat hatiku berbunga-bunga. Tak kalah senangnya saat ku melihat mama
ikut bertepuk tangan dan tersenyum memandangku dikursi terdepan. Terima kasih
mama telah mendukungku. Seakan mampu membaca pikiranku, mama pun mengedipkan
sebelah matanya. Yes, thas is my skill, really my skill..


0 komentar:
Posting Komentar