Flying Cute Green Butterfly This is my skill, this my vintage | hellooow! selamat menikmati! (^_^)

Sabtu, 22 September 2012

This is my skill, this my vintage


kali ini admin akan kasih sebuah cerpen tentang mempertahankan cita-cita seorang gadis bersama Sery. selamat menikamati... 

Ku goreskan beberapa warna dikertas yang ada didepanku. Menggoresnya dengan penuh semangat. Kombinasi warna jingga, hijau, dan coklat menjadi pilihanku. Perfect! Akhirnya aku berhasil menyelesaikan desainku.
“Bagaimana Sery, sudah selesai?”, tanya bu Tria sambil menghampiriku.
“Sudah bu. Ini, bagaimana menurut ibu?”, kataku sambil menyerahkan desainku, dan berharap-harap cemas. Masih belum ada ekspresi pada wajah Ibu Tria. Semakin membuatku cemas.
“Bagus, perkembangkanmu sangat pesat” kata bu Tria dengan senyum mengembang di bibirnya, yang jelas membuatku senang bukan kepalang. “oke, kita lanjutkan minggu depan. Jangan lupa untuk membawa bahan untuk desain kalian masing-masing”, kata bu Tria mengakhiri pelajarannya hari ini.
**********
Untuk kedua kalinya aku melihat jam ditanganku. Tepat pukul 5 sore. Namun, Chika temanku yg kutunggu-tunggu belum juga keluar dari gedung yg bertuliskan Vlaresta itu. Akhirnya temanku yang kutunggu keluar juga, sambil melambaikan tangannya padaku, dan berlari-lari seperti penumpang yang ketinggalan angkot.
“Woi, lama banget. Ngapain di dalem? Disuruh ngepel?”, tanyaku.
“Bukan ngepel, tapi nyuci. Hehe.. Ya enggaklah, sorry ya lama”, jawabnya dengan setengah ngos-ngoskan.
“iya gak papa kok, hampir aja tadi ngampar tikar terus jualan deh”, kataku yg dibalas dengan nyengir kuda Chika. “ ayo jalan”, kami berjalan menyusuri trotoar.
“Oh ya Ser, tadi belajar berjalan anggun menggunakan gaun panjang” kata Chika memandangku.
“Oh ya? Hmm.. siep-siep. Thanks ya” jawabku.
“Serr”
“ Iya, ada apa?”
“Sebaiknya hari ini waktu yang tepat untuk bilang kemamamu apa yang terjadi sebenarnya”, tampak ekspresi gelisah menghiasi wajah Chika.
“Hmm.. tapi, aku belum siap”
“Kamu harus siap, kapan lagi kamu mau bilang? Ini sudah satu bulan Ser. Aku gak enak sama mamamu, beliau udah ngasih banyak. Masa’ aku dengan teganya bohongin mamamu”
“Tapi, mau gimana lagi. Kamu tau sendirikan gimana mama? Aku juga gak tega bohongin. Please, tolong jaga rahasia ini sampai aku siap” dengan muka memohon pada Chika. Keraguan muncul diwajahnya, namun ia mengangguk kecil. “thanks”. Sebuah mobil hitam yang datang menjeputku telah mengakhiri perbincangan kami. Lambaian tangan pun.
********
Ku melihat-lihat lagi desain-desain bajuku, dan tersenyum-senyum tak jelas seperti orang gila. Membayangkan bagaiman bila semua hasil rancanganku berhasil di pajang. Pasti aku sangat senang. banyak orang yang kan datang, wartawan akan mewawancaraiku, desinku akan digunakan artis terkenal, dan aku akan menjadi legenda.
“Sery... sery.. sery” tiba-tiba suara itu mengagetkanku, aku pun dengan refleks memasukan kertas-kertasku kedalam lemari.
“Iya ma, masuk” jawabku sambil mengambil sebuah buku, dan pura-pura membacanya. Tak berapa lama pintuku dibuka.
“Hai sayang, kamu lagi ngapain?”, tanya mama sambil menghapiriku dikasur yang kududuki.
“Ngg.. ini ma, lagi baca buku. Mm.. mama baru pulang?”
“Iya, pekerjaan mama udah selesai. Nah, ini ada oleh-oleh buat kamu”, kata mamaku sambil menyerahkan sebuah bingkisan berwarna kuning. Warna favoritku.
“Makasih ma”, ucapku sambil tersenyum ke arah mama.
“Oh ya, bagaimana dengan les modelingmu?”, pertanyaan itu mampu membuat senyumku luntur seketika.
“Ng.. ng.. bagus.. eh, Sery kerasan. Kemaren baru belajar berjalan anggun”, jawabku tersendat.
“Oh ya, mama senang kalau begitu. Eh, ada satu lagi. Ini”, kata mama sambil menyerahkan kotak yang cukup besar.
“Apa ini ma?” tanyaku dengan dahi berkerut.
“Ini baju yang pernah mama pakai saat mama jadi model dulu” kubuka kotak itu, ada beberapa gaun dan baju bergaya 90’an. Baju itu tampak spektakuler, walapun sedikit kuno. Pikiran terbang melayang membayangkan apa yang bisa kulakukan pada baju dan gaun itu, membuatnya menjadi lebih modern. “Sery, mama berharap. Kamu bisa mengikuti jejak mama menjadi model, dan bisa memakai baju spektakuler sepeti mama” kata itu membuatku tercekat, air mataku hampir menetes mendengar itu. Aku harus berkata sejujurnya sebelum semua terlambat.
“Mama”
“Iya sayang”
“Ma, sebenarnya... Sery gak pernah ikut les modeling” tampak sekali keterkejutan diwajah mama. “Sebenarnya Sery menyuruh Chika untuk gantiin sery untuk les modeling. Karena menurut Sery model bukan bidang yang cocok buat Sery, Sery lebih suka menjadi desainer”
“Sery, kenapa kamu bisa seperti itu? Mama gak pernah menyuruhmu untuk berbohong. Modeling itu cocok untuk kamu ser,kamu cantik”
“Tapi sery gak nyaman ma. Itu lebih cocok buat Chika. Sery gak bisa. Selama ini Sery kursus mendesain karna itu yang Sery suka”
“gak bisa, kamu tetap harus jadi model. Kamu korbanin temen kamu demi keegoisanmu untuk ikut kursus desain. Pokoknya, mama akan suruh mang ujang ngaterin kamu sampai kedalam kelas”
“mama....”
“jangan coba-coba bohongin mama lagi” mamaku berlalu, dan pergi meninggalkan kamarku. Air mata pun tak dapat agi kutahan. Entah apa yang harus aku lakukan.
******
“sabar ya ser, pasti semua ada hikmahnya”
“tapi, kenapa mama gak bisa ngertiin.. hiks.. hiks” air mataku menhgalir dan membasahi hanphoneku.
“kamu harus yakinin lagi mama kamu apa yang kamu suka, pasti nanti mama kamu bisa ngerti”aku berfikir sejenak, dan tiba-tiba ide melintas. Aku teringat pada bu Tria tentang pengumannya minngu lalu.
“Chi, kamu bsa gak datang kerumahku terus minta mama ngijin aku keluar. Bilang aja kita ada tugas kelompok atau apa. Aku harus nemuin bu Tria” kataku mantap.
“ngg.. tapi...”
“please, ini jalan yg bisa yakinin mama”
“oke” lalu telpon ditutup. Aku langsung menuju lemari dan mencari-cari. Nah, ini dia. Baju mama. Aku akan membuat suatu kejutan untu mama.
******
“ibu Friska, Ibu Friska, ada surat buat ibu” seorang wanita paruh baya menghampiri seorang ibu dengan pakaian elit.
“oh, makasih ya mbok ijem” lalu mbok ijem pun berlalu. Ibu itu membuka surat tersebut. Lalu menaikkan kedua alisnya. Disurat itu tertulis Pergelaran busana vintage karya remaja...
********
Gedung mulai terlihat ramai oleh para pengunjung. Dengan cemas aku melihat kursi terdepan yang masih kosong, dan melirik kejam. Jam 9.25. lima menit lagi acara akan dimulai, tapi kenapa dia belum juga datang. chiara pun menghampiriku.
“Gimana Ser? Belum datang juga ya?”
“iya nieh, mama mau datang gak ya? Bentar lagi mulai” mukaku bertambah cemas.
“udah sabar aja, pasti mama kamu akan datang” kata Chika menenangkanku.
“Sery, Chika. Ayo siap-siap” bu Tria mengkode kami untuk kebelakang panggung. Semoga mama datang.
Acara pun dimulai. Acara ini memamerkan karya-karya dari 3 perancang muda. Perancang pertama memamerkan gaya 70’an. Dengan dominasi warna coklat yang elegan. Perancang kedua memamerkan gaya 80’an. Dengan kombinasi corak polkadot dan garis-garis. Tibalah rancanganku akan dipamerkan, gaya 90’an yang berdominasi motif kotak-kotak. Deg-degan pun tak dapat ku hindari, Chiara yang memeragakan busana hasil rancanganku. Hingga namaku dipanggill sebagai perancang.
“daaan.. ini dia perancang terbaik kita.. Seryla Venoly” terdengar tepuk tangan yang sangat meriah, membuat hatiku berbunga-bunga. Tak kalah senangnya saat ku melihat mama ikut bertepuk tangan dan tersenyum memandangku dikursi terdepan. Terima kasih mama telah mendukungku. Seakan mampu membaca pikiranku, mama pun mengedipkan sebelah matanya. Yes, thas is my skill, really my skill..

0 komentar:

Posting Komentar

 

hellooow! Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template